Lensaraya.com | Aceh Tamiang – Malam pertama Ta’ziah dirumah Datok Penghulu Kampung Desa Tualang Seruway Kabupaten Aceh Tamiang dalam rangka berpulangnya kerahmatullah Ny. Mariati Binti Hasan, ibu mertuanya datok desa (kampung) setempat.
Usai Ta’ziah, Ahlil Bait meminta Ustadz Thoiyib sampaikan Tausiyah nasehat kepada ratusan para jamaah ikut mendo’akan Almarhumah Ny. Mariati Binti Hasan diketahui istri mendiang Saifuddin alias Yong Cokro, pada Senin (20/07/26) ba’da Isya.
Ratusan jama’ah Ta’ziah penuh khidmat merenungkan pesan nasehat dari Ustadz Thoiyib dengan kutipan saripatinya tentang “Tiga Bekal Hidup Didunia Setiap Manusia Dibawa Ke Akhirat”.
Datok Penghulu Kampung (Desa) Tualang Kecamatan Seruway, Syafi’i mengucapkan selamat datang dan terima kasih tiada hingga kepada para Jama’ah Ta’ziah yang telah berhadir membantu mendo’akan kepada Almarhumah orang tuanya, Ny. Mariati Bunyi Hasan (Mak Etek) atas berpulangnya ke Rahmatullah.
“Kami atas nama seluruh keluarga menyampaikan ribuan terima kasih kepada seluruh jama’ah berhadir kerumah duka kami dengan langkah yang ringan dan niat mulia guna mendo’akan kepada Almarhumah orang tua kami, semoga Allah SWT memberikan kita semua kesehatan dan kemudahan dalam semua urusan,” ucap Datok Syafi’i.
Diawal pembukaan Tausiyahnya, Ustadz Thoiyib mengingatkan bahwa, dalam Firman Allah itu disampaikan bahwa setiap yang hidup pasti akan merasakan mati, setiap yang bernyawa pasti akan tiba waktunya maut menjemput, “Kita tinggal hanya menunggu waktu, kapan giliran kita dipanggil menghadap Allah SWT,” ucapnya.
Kata Ustadz Thoiyib, dalam setiap hidup setiap insan manusia dalam dunia ini ada 3 bekal dihasilkannya dan akan dibawa ke kehidupan berikutnya yakni, “Alam Akhirat”.
“Pertama adalah modal manusia mulai hidup didunia adalah tangisan, sejak lahir setiap manusia itu menangis, saat sakit menangis, saat bahagia menangis, dan saat Merakan duka juga menangis,” kata Ustadz Thoiyib dihadapan ratusan Jama’ah yang hadir.
Berikutnya, sambung Ustadz Thoiyib, kedua, dalam hidup manusia senantiasa melahirkan rasa lelah dalam perjalanan hidup sehari-hari dalam berbagai dinamika kehidupan dari lahir hingga akhir hayatnya, “Lelah itu tercipta dengan sendirinya oleh setiap insan hamba Allah keturunan Nabi Adam selaku Ummat Nabi Muhammad SAW,” ulasnya.
Jelas Ustadz Thoiyib, “Semua lelah itu tergantung pada diri kita bagaimana, kemana, dan hasil yang kita peroleh dari lelah itu, kalau lelah kita lebih banyak untuk perintah Allah SWT dan menantang serta mencegah semua larangan-Nya dari diri kita, maka lelah itu bermanfaat bagi kehidupan akhirat kita,” jelasnya.
Namun, sambungnya, jika lelah yang dihasilkan dalam kehidupan ini semata-mata karena lelah untuk kepentingan dunia semata, maka sia-sia lah semua lelah yang dihasilkan itu dan hasil akhir lelah itu tak berguna bagi setiap insan untuk dibawa mati atau menghadap Allah SWT.
Bekal ketiga, kata Ustadz Thoiyib, yaitu memperjuangkan dan menghasilkan harta kekayaan dalam perjalanan hidup ini setiap insan berusaha mendapatkan dan mengumpulkan harta benda, sehingga semua itu apakah bernilai dunia semata atau juga bernilai keduanya, yakni “Dunia dan Akhirat”.
“Kita kita melakukan renungan diri kita, ketika kita kaya, dengan banyak harta, apakah semua harta kekayaan itu kita mampu bawa ke kehidupan akhirat, semua itu tergantung dari kita yang memutuskannya, yakni melalui menyalurkan harta kekayaan itu ke jalan sesuai diperintahkan Allah,” ungkap Ustadz Thoiyib.
Dilanjutnya, “Memang untuk kebutuhan hidup sehari-hari kita dan keluarga kita juga merupakan kewajiban mempergunakan harta yang kita peroleh tersebut, namun dari semua itu kemana kita pergunakan sehat dan tenaga dari mengkonsumsi rizki berasal dari anugerah Allah itu,” paparnya.
“Jika semua harta kekayaan itu kita gunakan tidak sesuai dengan perintah Allah SWT, maka sia-sia juga semua harta itu dan jangan pernah kita mengadu semua hal kita kepada selain Allah dalam kita berusaha memenuhi kebutuhan hidup kita,” pesan Ustadz Thoiyib.
Ustadz Thoiyib mengajak semua para jama’ah Ta’ziah, termasuk dirinya sendiri agar semakin jauh mengintrospeksi diri serta mengingat setiap waktu berlalu sebagai isyarat bagi hidup setiap insan didunia ini,” Kapan saya akan mati sesuai janji Allah kepada semua makhluk ciptaan-Nya dan apa bekal yang akan kita bawa menghadap Allah SWT,” himbaunya.*
Reporter : Adi Hunter
